Jum'at, 29 Mei 2020 06:29:02 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 459
Total pengunjung : 139754
Hits hari ini : 3275
Total hits : 1434623
Pengunjung Online : 22
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Bank Indoensia dan Pemkab Bondowoso Kembangkan Kluster Kopi Kualitas Ekspor






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 25 Agustus 2018 17:15:22
Bank Indoensia dan Pemkab Bondowoso Kembangkan Kluster Kopi Kualitas Ekspor

Bondowoso,pustakalewi.com - Bank Indonesia Jawa Timur lewat BI Kantor Perwakilan Jember memberikan dorongan kepada klaster binaan produk kopi Bondowoso untuk bisa tembus pasar ekspor. Menurut Kepala BI KPw Jatim, Difi Ahmad Johansyah, potensi kopi di Indonesia, khususnya Bondowoso, sangat luas dan besar.

"Di Jatim ini, ada macam-macam kopi. Daerah yang memiliki perhatian besar pada industri kopi dengan melibatkan Pemerintah Daerah (Pemda) melalui anggaran pengembangan dan program-program pendukungnya, salah satunya Kabupaten Bondowoso ini," kata Difi di Pendopo Kabupaten Bondowoso, Kamis (23/08).

Bondowoso juga sudah menyatakan sebagai daerah dengan mengukuhkan Bupatinya sebagai Presiden Republik Kopi. Bahkan di akhir pekan ini, Bondowoso menggelar Festival Kopi Nusantara di Alun-Alun Bondowoso yang puncaknya pada Sabtu (25/08).

Bupati Bondowoso, Amin Said Husni yang turut hadir mengatakan bahwa keberadaan tanaman kopi di wilayah Bondowoso sudah sangat lama dan terus berkembang.

"Karena pengembangan tidak bisa dilakukan di seluruh wilayah Bondowoso, akhirnya sejak tahun 2011 Pemkab menfokuskan pengambangan kopi Arabika di lereng gunung Ijen yang berada diatas ketinggian seribu kilometer dari permukaan laut," jelas Amin.

Pengembangan klaster kopi di tahun itu, ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman yang dibuat Pemkab Bondowoso bersama tujuh pihak, BI KPw Jember, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember, Bank Jatim, Perhutani, Asosiasi Pengusaha Kopi Indonesia dan mitra pemasaran eksportir.

Selanjutnya, Pemkab juga memilih desa untuk menjadi desa dengan sebutan Kampung Kopi.

"Desa terpilih ini untuk mengembangkan kopi dan menjadi Wisata Kampung Kopi. Disana tidak hanya mengembangkan kopi asalan. Dan sejak ditandatangani kesepakatan tersebut, usaha kopi terus berkembang, terutama dengan adanya pendampingan dari Puslitkoka Jember tentang bagaimana menanam, menjemur hingga processing, hulu hingga hilir,” jelas Amin.

Wisata Kampung Kopi yang diresmikan pada Desember 2017 ini berada di sepanjang Jalan Pelita, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Kota Bondowoso.

Di sana ada berpuluh kafe, baik kecil ataupun besar yang menjual beraneka ragam kopi khas Bondowoso. Menurutnya, kafe-kafe tersebut sebagian besar dikelola anak muda.

Tidak hanya bisa membantu menumbuhkan ekonomi rakyat, ini juga mampu memacu daya imajinasi dan kreatifitas anak muda Bondowoso. Yang awalnya hanya 11 kafe, sekarang sudah berjumlah sekitar 30 kafe,” jelas Amin.

Selain itu, hutan kopi di lereng Ijen juga menjadi percontohan pengembangan kopi yang bisa berdampingan dengan hutan.

Penanaman kopi di lahan perhutani terus berkembang dari ratusan hektar menjadi 14.000 hektar lahan milik perhutani yang dikerjasamakan dengan petani.

Saat ini, produksi kopi Bondowoso mencapai 3.000 ton per tahun. Dari total volume tersebut, 1.000 ton telah diekspor ke berbagai negara lain dan sisanya untuk memenuhi kebutuhan kopi di Bondowoso dan daerah sekitarnya.

Selain itu, Pemkab Bondowoso juga telah buat Peraturan Bupati (Perbup) tata niaga tentang perkopian yang menjelaskan tentang bagaimana kopi dikelola hingga pembeli tidak boleh langsung masuk ke kebun dan petani tidak boleh menjual langsung ke pembeli karena akan menurunkan daya jual mereka.

Ada BUMD yang menjadi pintu gerbang perantara antara buyer dengan petani. Pemerintah juga memberikan bantuan akses teknologi dan pasar.

“Untuk mengembangkan kopi yang berkualitas, petani adalah kuncinya. Untuk it harus ada kerja keras agar petani menjadi profesional yang tidak hanya mengejar produksi tetapi juga mau berusaha secara maksimal untuk meningkatkan kualitas,” tandas Amin.mwp

dilihat : 552 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution