Senin, 20 Januari 2020 08:04:12 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 443
Total pengunjung : 18219
Hits hari ini : 2143
Total hits : 565648
Pengunjung Online : 12
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Masyarakat Surabaya Butuhkan Edukasi Perumahan






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 06 Mei 2017 20:13:13
Masyarakat Surabaya Butuhkan Edukasi Perumahan

Surabaya,pl.com - Hunian memang menjadi mimpi banyak orang. Sayangnya, tak banyak yang mengetahui dengan jelas kapan dan bagaimana mimpi itu bisa diwujudkan.

Sebagai Situs Properti no. 1 di Indonesia, Rumah123 kembali menggelar Sentiment Survey terkait tren perilaku pasar properti di Indonesia.

Dari data yang berhasil diolah tim Business Intelligence Rumah123, pasar properti di Indonesia masih sangat menjanjikan dari sisi jumlah konsumennya.

"Konsumen first time home buyer masih menjadi pasar paling besar," ujar Head of Consumer Marketing Rumah123, Fanny Meilana dalam acara Paparan Hasil Sentimen Survey di Surabaya, Kamis (4/5).

Fanny menambahkan dari data profilnya, 60 persen responden survei ini belum memiliki huniannya sendiri. Survei menunjukkan 46 persen responden masih tinggal bersama orangtua, atau di rumah warisan, dan sekitar 26 persen menyewa atau mengontrak.

Para first time home buyers ini masih membutuhkan edukasi dan arahan tentang bagaimana mewujudkan mimpi mereka dengan lebih cepat. Terutama kesesuaian spesifikasi hunian yang sejalan dengan penghasilan.

Selain itu, besaran down payment masih menjadi faktor pertimbangan utama bagi konsumen dalam menentukan huniannya.

Ketua Asosiasi Pengembang Rumah Sederhana Indonesia (Apersi) Jatim, Supratno, mengakui saat ini kebutuhan rumah pertama untuk segmen menengah ke bawah sudah tidak bisa lagi untuk di kawasan kota besar.

"Seperti di kota Surabaya ini, sulit kalau cari rumah pertama landed dengan harga dibawah Rp 300 juta yang layak dan berada di jalan yang bisa dilewati mobil," kata Supratno.

Solusinya adalah apartement. Kalaupun masih mengingikan landed, mau tidak mau haris berada di area yang cukup jaih dari pusat kota. Dan hal itu adalah pilihan.

Bagi pengembang sendiri, bila mengembangkan rumah sederhana murah dan layak, saat ini sudah dilakulan di daerah-daerah.

"Pasarnya tetap berkembang dan mampu. Saya bangun ada sekitar 400 rumah landed di Bangkalan, sekitar 90 persen pembelinya adalah orang Surabaya," jelas Supratno.

MeskI jauh dari tempat bekerja di Surabaya, dengan rumah landed yang cukup jauh, bisa dimanfaatkan untuk usaha sampingan.(Ibs)

dilihat : 445 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution