Jum'at, 29 Mei 2020 06:54:29 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Perkembangan Peer to Peer Lending di Indonesia
Perkembangan Peer2Peer Lending (P2P Lending), pinjam meminjam berbasis aplikasi makin subur di Indonesia. Tapi kehadirannya tentu akan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif.


Pengunjung hari ini : 471
Total pengunjung : 139766
Hits hari ini : 3455
Total hits : 1434803
Pengunjung Online : 28
Situs Berita Kristen PLewi.Net -Menelusuri Jejak Pekabaran Injil di Kalteng






SocialTwist Tell-a-Friend | |
Minggu, 06 Januari 2013 08:50:34
Menelusuri Jejak Pekabaran Injil di Kalteng
MENGINJAK tanggal 1 Januari 2013 suasana Desa Tumbang Sian kecamatan Kahayan Hulu terasa ramai. Tradisi perayaan Tahun Baru diisi warga dengan berkeliling kampung, serta saling berbalasan untuk melakukan kunjungan ke rumah-rumah. Tahun baru juga diisi dengan ibadah yang dimulai pukul 08.00 sama dengan hari Minggu. Seperti biasa lonceng gereja dibunyikan tiga sesi. Yang pertama pukul 06.00 untuk mengingatkan jemaat agar bersiap-siap ke gereja. Pukul 07.30 berarti memanggil warga untuk pergi ke gereja atau bersamaan dengan usainya ibadah Sekolah Minggu (ibadah anak-anak) dan pukul 08.00 berarti ibadah umum akan dimulai. Usai dibunyikannya lonceng pertama, banyak warga yang akan bersiap-siap ke gereja. Mereka turun ke sungai untuk mandi. Penulis juga tidak ingin melewatkan tradisi yang sangat jarang dilakukan di kota yakni mandi di sungai.

Berenang dan menikmati kesegaran alam. waahhhh... segarrrr sekali, Ibadah awal tahun dilayani oleh Yami (63) merupakan salah satu pekerja majelis gereja. Kepada Kalteng Pos, wanita dengan rambut putih ini mengaku GKE Gloria tidak punya pendeta tetap. Ibadah hanya dilayani oleh penatua dan pekerja majelis. Kalaupun ada biasanya dari Tumbang Miri, kata Yami yang dibincangi usai ibadah. Dirinya yang dalam kondisi sedang tidak enak badan mengaku mengumpukan tenaga, berdoa dan berusaha agar mampu menyampaikan Firman Tuhan dengan baik pada kebaktian awal tahun itu. Memang sangat disayangkan, jika desa yang dulunya menjadi pusat pekabaran injil ini sekarang tidak memiliki pendeta tetap. Malah didatangkan dari desa lain seperti Tumbang Miri. Padahal menurut sejarah yang diceritakan oleh Numan M Lacjhan (82), Tumbang Sian adalah stasi (perpindahan) kedua setelah Tumbang Musang stasi pertama. Dari Tumbang Sian, penyebaran Injil bergerak ke Tumbang Miri sebagai statis tiga lalu ke wilayah Manyan, Sampit hingga ke Banjarmasin ibu kota Kalimantan Selatan. Penyebaran agama Kristen di Kalteng yang juga dimulai di Desa Tumbang Siang juga erat berkaitan dengan pengaruh penjajahan Jepang. Numan menjelaskan pekabaran injil bahkan mengalami lima kali perubahan, yakni pada yang pertama pada missi Barmen, Misi Sending Wassel, Pembinaan Gereja Dayak, Masa Minami Dayak Kristo Kio Kyokay dan terakhir Gereja Dayak menjadi Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) karena banyak orang Dayak di Kalteng yang sudah memeluk agama Kristen. Singkatnya, saat Karel Elpe Kembali ke Jerman dan mencetak Alkitab dengan bahasa dayak atau Surat Barasih. Tahun 1935 pada tahap ke tiga gereja berubah nama dan disebut Gereja Dayak. Tata ibadah semuanya disuaikan dengan bahasa dan budaya yang ada tanpa ada lagi pengaruh bahasa dari eropa. Salah satu Pendetanya saat itu adalah Salumu Lajchan. Tahun 1942 Jepang masuk ke Kalteng termasuk Tumbang Sian sebagai daerah jajahan. Numan menyebut pergerakan pasukan pasukan dipimpin oleh seorang kaisar. Meski singkat namun Jepang begitu kuat menguasai sektor pemerintahan, politik hingga agama. Gereja yang dibangun pada tahun 1971 - 1977 Jepang merubah namanya menjadi Dayak Kristo Kio Kyokay.

Melalui Departemen Agama, Injil juga masuk melalui seorang missionaries Jepang bernama Honda. Di luar itu juga saya masih ingat ada beberapa lagu kebangsaan yang diajarkan salah satunya Mioto Nasora Akete, kata ayah 11 anak ini saat dibingcangi di depan kediamannya yang tepat berada di samping depan gereja. Meski singkat, diakui Numan, Jepang sangat kejam. Pendeta yang tidak sepaham dengan ajarannya dikejar dan tidak sedikit yang dibunuh dengan cara disembelih. Karena itu banyak Pendeta yang lari ke desa-desa sekitar, termasuk Tumbang Miri, sehingga di Tumbang Sian tidak ada lagi pendeta Dayak. Disebutkannya, pascaperjanjian Tumbang Anoi Tahun 1894, suku Dayak memang sudah sepakat untuk tidak melakukan pemenggalan kepala. Kata Numan, Jepang pun tau akan perjanjian tersebut. Namun gerakan perlawanan akan penjajahan Jepang memang dilakukan di seluruh tanah air hingga tahun 1950 setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, Tahun 1950, Jepang baru benar-benar meninggalkan Kalteng.

Itulah awal dari kekosongan pendeta di Desa Tumbang Sian. Namun puji Tuhan. Injil tetap diberitakan sampai ke ujung bumi, kata Numan. Sesudah masa penjajahan Jepang nama gereja berubah menjadi GKE Gloria dengan banyaknya orang Dayak yang sudah menganut agama Kristen. Kekosongan pendeta di Tumbang Sian menjadi perhatian jemaat awal. Numan dan jemaat lainnya berencana untuk merangkul kembali para pendeta yang berpindah di desa lain dan mengembangkan Resort Miri Hamputung yang didirikan oleh Eduard Duhung putra Tumbang Sian. Termasuk mereka yang pernah lari ke Tumbang Miri. Numan berkehendak agar pusat pekabaran injil dikembalikan ke Tumbang Sian. Namun kemajuan Tumbang Miri terlampau pesat dari segi perekonomian dan pemerintahan. Bahkan jemaat Tumbang Miri juga langsung mendirikan resort sendiri, yakni Resort Kahayan Hulu Utara. Padahal Numan bersama dengan Jemaat sudah mempersiapkan pastoral dan pembenahan fasilitas untuk pengembangan Resort Miri Hamputung. Kenyataannya Resort Miri Hamputung malah stagnasi. Kami masih mengusulkan beberapa poin penting, semuanya masih dibicarakan, kata Numan mengharap perubahan. Minggu kedua Januari ini akan diadakan perayaan satu abad pekabaran injil di Tumbang Sian. Menurut rencana, Bupati Gunung Mas Hambit Bintih akan hadir didampingi istri. Dalam momen nanti Numan berharap akan ada dampak bagi pelayanan gerejawi di desanya. (DAP)


sumber:
http://www.kaltengpos.web.id/?menu=feature&id=281

dilihat : 485 kali


   
Copyright 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution