Rabu, 15 Juli 2020 16:19:25 | Home | Index Berita | About Us | Statistik | Buku Tamu | Redaksi | Webmail | Login |  

Catatan Ringan

Beatrice Portinari
Beatrice Portinari (1266-1290) adalah seorang anak manusia biasa yang kemudian menjadi obyek imajinasi luar biasa sehingga identitas dirinya secara tidak adil akan terseret dalam status luar biasanya itu.



Pengunjung hari ini : 645
Total pengunjung : 167291
Hits hari ini : 4220
Total hits : 1806330
Pengunjung Online : 12
Situs Berita Kristen PLewi.Net -LSM-LSM Israel kerahkan tenaga untuk penuhi kebutuhan para imigran non-Yahudi




SocialTwist Tell-a-Friend | |
Sabtu, 03 November 2012 02:19:13
LSM-LSM Israel kerahkan tenaga untuk penuhi kebutuhan para imigran non-Yahudi
Yerusalem – Selama beberapa tahun terakhir, ribuan orang Afrika non-Yahudi melakukan eksodus, berhijrah dari negara-negara asal mereka ke “Negeri yang Dijanjikan” dengan harapan menemukan tempat tinggal – setidaknya untuk sementara – di Israel, negara yang mendefinisikan dirinya sebagai tempat berlabuh para pengungsi Yahudi.

Dengan lebih dari 60.000 orang Afrika sub-Sahara yang sudah ada di negara ini (separonya tiba dalam dua tahun terakhir) dan kekhawatiran bahwa boleh jadi ada ratusan ribu lagi yang mencoba melewati perbatasan selatan di Sinai, orang-orang Israel dan LSM-LSM setempat bergerak guna mengatasi berbagai tantangan mengintegrasikan para pendatang non-Yahudi dengan cara-cara yang menjadi ujian atas komitmen mereka terhadap perlindungan pengungsi dan dan respek terhadap martabat manusia. Ini adalah sebuah tantangan besar, apalagi mengingat adanya demonstrasi anti-imigran dari Afrika yang terjadi di Tel Aviv belum lama ini.

Pada Juli lalu, 25 pelajar sekolah menengah Yahudi Amerika yang ambil bagian dalam program beasiswa Bronfman Fellowship yang diseleksi ketat, berkumpul di sebuah ruang pertemuan yang panas dan lembab di kantor Bani Darfur (Anak-anak Darfur, organisasi akar rumput pertama yang mewakili para pencari suaka di Israel) di Tel Aviv selatan. Dua pemuda Darfur, yang satu Muslim berusia 19 tahun, satunya Kristen 18 tahun, telah sepakat untuk menceritakan kisah mereka dan memberi perspektif tentang kompleksitas masyarakat Israel sekarang. Di sebuah negara yang biasanya kita kira penuh sekat-sekat yang tinggi, khususnya antara orang-orang Yahudi dan non-Yahudi, mendengar sendiri situasi tak menentu yang dihadapi para pengungsi Afrika cukup bisa membuka wawasan.

Karena bekerja di organisasi bantuan pengungsi di Israel [ASSAF], yang membantu sekumpulan anak muda pengungsi Afrika, saya tahu bahwa cerita-cerita yang akan kami dengar bukan kisah langka. Salah satu dari dua pemuda tadi lahir di Darfur dari sebuah keluarga yang meninggalkan kampung mereka ketika diserang oleh orang-orang Janjawid, yang didukung dan dipersenjatai oleh pemerintah Sudan, dan melarikan diri ke sebuah kamp pengungsi PBB di Chad. Bertahun-tahun kemudian, ia meninggalkan Chad untuk pergi ke Mesir, dengan maksud menuju Israel.

Pemuda yang satu lagi tidak pernah melihat dan mendengar lagi kabar orang tuanya sejak 2003 ketika kakak perempuannya melarikannya dari kampung mereka yang dibakar di Darfur, dengan menggendongnya. Setelah menghabiskan beberapa waktu di sebuah kamp pengungsi di Sudan, ia pergi ketika masih berusia 13 tahun, tanpa memberi tahu kakaknya. Perjalanan sebagai orang buangan menuntunnya ke Israel, negara yang tak ia kenal, secara kebetulan.

Dengan meninggalkan tempat tinggal mereka, keduanya mengharapkan masa depan yang lebih baik dan pendidikan.

Mereka menjalani hari-hari pertama mereka di Levinsky Park Tel Aviv, dan memulai perjalanan hidup mereka di sebuah hunian sementara bagi para pengungsi Afrika, lalu oleh sebuah organisasi pemuda sosialis dibawa ke sebuah sekolah pondokan, Rishon leZion. Empat tahun setelah mereka tiba di Israel secara sembunyi-sembunyi, di tahun terakhir pendidikan mereka, mereka masuk ke salah satu sekolah menengah prestisius di Tel Aviv.

Bocah-bocah Sudan ini berpakaian trendi dan tersenyum percaya diri saat mereka menyambut para pelajar sekolah menengah dari Amerika dengan ucapan “shalom” yang bersemangat. Sebelum kami mulai, salah satu dari mereka bertanya apakah boleh mereka menceritakan kisah mereka dalam bahasa Ibrani. “Ini adalah bahasa yang paling nyaman bagi kami” katanya.

Perasaan terpana mengiringi kesaksian mereka, yang disusul dengan berondongan pertanyaan: Mengapa Israel? “Karena kami tahu Israel adalah negara bebas yang dibangun oleh para pengungsi, untuk para pengungsi.”

Bagaimana orang-orang Israel memperlakukan kalian? “Para tentara di perbatasan menyambut kami, mereka memberi kami makanan dan obat-obatan. Dan kemudian, orang-orang dari organisasi pemuda mengajari kami bahasa Ibrani. Mereka memberi kami pakaian, dan menawarkan persahabatan. Lantaran seorang pekerja sosial yang percaya pada kami, kami dipindahkan dari sekolah pondokan di mana pendidikannya tak begitu baik ke Gymnasia Herzliya, salah satu sekolah terbaik di negara ini.”

Apakah kamu merasa sebagai orang Israel? “Beberapa bulan yang lalu, saya akan katakan bahwa hidup saya memang di sini, bahwa orang-orang Israel telah memberi saya sebuah tempat tinggal. Namun, belakangan, hasutan para politisi dan tindakan kekerasan terhadap orang-orang hanya karena mereka orang Afrika telah membuat saya takut. Saya tak begitu yakin sekarang.” Salah seorang bertanya kepada para pelajar Amerika, “Akankah Israel menerima kami sebagai bagian darinya?”

Hari Jumat berikutnya, jelang akhir Ramadan, saya menelepon untuk berterima kasih kepada salah satu anak muda Sudan itu karena telah meluangkan waktu untuk bertemu para pemuda Yahudi dari Amerika. Saya katakan kepadanya bahwa saya berharap masa ketakpastian dan intoleransi yang sedang mereka alami tidak bertambah buruk. Saya benar-benar ingin dia merasa betah di Israel. Akan menjadi sebuah kehormatan untuk memandang mereka berdua sebagai “bagian dari kita”.

“Shawman maqbulan,” kata saya, mendoakan agar puasanya diterima. “Shabbat shalom,” jawabnya. (MWP)


sumber:
http://www.commongroundnews.org/article.php?id=32257&lan=ba&sp=0

dilihat : 488 kali


   
Copyright © 2005 Pustakalewi.net
All rights reserved. Protected by the copyright laws of the Indonesia
hosted and developed by Agiz YL Solution